Topeng Tari Suroan Pakisaji Malang
Written by finkatiq   
Monday, 05 January 2009
Malam 1 Syuroan 1430 H  Dewan Kesenian Lamongan ( DKL ) ditengah pementasan Gebyak Topeng Senin Legian " Sanggar Asmoro Bangun  mBah Karimun" dusun Kedung Monggo Pakisaji MAlang

Hentakan suara Gendang membuat tepuk tangan bersautan mengikuti gerakan penari Topeng yang jangkung , meliuk, menghentakkan kaki serta olengan peluntitan gemulai sang penari. Sesekali keluar bunyi klintingan yang membalut kaki kanannya, membuat suasana semakin gayeng menuju mistik dusun Kedung Monggo Pakisaji disertai rintik hujan  dan percikan kilat nan lembut.

Malem itu dengan Bus Pemda LAmongan melunncur disela kepadatan Dinoyo, rombongan pengurus Dewan Kesenian Lamongan  di bawah komando Ketua Umum DKL Sonhaji dari Villa jalan Mawar menuju Pakisaji malang tempat pementasan tari Topeng setiap Senin Legian . Di dusun agak terpencil mempunyai roh malam bagaikan siang, dengan antusiasme penonton yang datang tidak hanya dari pakisaji  namun juga menjadi rujukan dan idaman insan seni malang dan sekitarnya.

Pementasan tari topeng melakonkan cerita Panji Asmoro BAngun dari awal dengan patron dan improvisasi pemainnya , sungguh amat mempesona dengan pemain generasi ke 3 dari sang Maertro mbah Karimun diiringi 10 orang pengrawit yang rata-rata berusia senja. Dusun Topeng kedung Monngo merupakan pusat kegiatan kesenian yang masih lestari dan membuat kekaguman akan pembinaan yang berjenjang kini diketuai cak Suroso. " Sapa sing gelem  nglestarekno kesenian iki bakal oleh pinwales sing satimbang yoiku keparingan seger waras kuat slamet gampang gangsar ngupaya sandang klawan pangan " kata soer panggilan akrap cak Soeroso usai pentas.

Dari kunjungan ini dapat dipetik bagaimana usaha melestarikan serta pentingnya pembinaan berjenjang, tanpa kenal lelah sehingga kesenian tradisional tetap eksis ditengah kepungan budaya dan kreasi asing . DKL beserta Dinas kebudayaan dan Pariwisata ditunjang senimannya bertekad untuk tetap melestarikan dan menghidupkan kembali sentra-sentra kesenian tradisionalnya yang bertebaran di LAmongan, maju bersama dengan karakter daerah oleh Budayawan Rudy Isbandi sebagai kesenian Tahu Campuran.  Bisa melesat  dan dibicarakan  ditingkat regional atau nasional, seperti tari " Sego Boranan "dan tari " Caping Ancaknya'' yang akhir 2008 menyabet juara Nasional di Jakarta, dan menjadi perbincangan diantara insan seni Tari  Indonesia.