|
Written by finkatiq
|
|
Wednesday, 31 March 2010 |
|
Unas yang diselenggarakan tengah maret 2010 merupakan gawe rutin pemerintah melalui Diknas yang selalu di warnai Pro dan Kontra
Unas setiap tahun selalu mengundang pro kontra, rame sekali ada yang ingin tetap diselenggarakan dengan aneka pengetatan pengawasan, dipihak lain unas harus dihentikan karena alasan macam-macam. Namun dalam hal ini Diknas tetap menyelenggarakannya dengan alasan yang masuk akal dengan pembenahan mulai soal hingga pengawasannya, selain tetap mempercayakan pada instansi Polri juga dikawal oleh lembaga indenpenden dari kalangan Akademisi
.
Tanggal 22 hingga 26maret 2010 serentak seluruh Indonesia mengadakan Unas tingkat SMA begitu pula dengan tingkat SMK dan 29 maret 2010 Unas tingkat SLTP/ MTs;sedangkan tingakat SD/MI l5 Aprilnya.
Kejadian yang sama seperti ditemukannya kunci jawaban, walau belum tentu keabsahannya atau dugaan kebocoran soal yang selalu rame menjadi pembicaraan.
Selaku pengawas ruang yang dilarang mondar-mandir, suara bisik dan menggunakan alat hape atau sekedar membaca surat kabar atau bacaan lain. Ingin membuktikan benarkah ada sesuatu yang menjadi perbincangan tidak hanya akademisi namun menjadi rumpian diwarung-warung tepi jalan, namun anehnya ada rasa aneh.... ada jawaban dengan pola yang sama, entah sooalnya mudah atau ada kecanggihan cara pensiasatan yang susah dideteksi para pengawas
Pelaksanaan ujian nasional atau UN masih saja menuai kontroversi. Sosiolog Imam B Prasodjo, PhD dan pengamat pendidikan Prof Dr Soedijarto berpendapat, UN sebaiknya dihapuskan saja. Jika ingin dipertahankan, pemerintah harus memberikan pemerataan fasilitas, sarana, dan prasarana pendidikan di seluruh wilayah.
Tidak meratanya fasilitas pendidikan dinilai menimbulkan kesenjangan dan ketidakadilan terhadap daerah yang tak mendapatkan fasilitas pendidikan memadai.
UN tidak perlu dipertahankan. Kalau dipertahankan, pemerintah harus membuat pemerataan fasilitas, sarana, dan prasarana di seluruh Indonesia, kata Imam pada diskusi Ujian Nasional Perlukah Dipertahankan? di Gedung DPD, Jakarta, Jumat (26/3/2010).
Imam melihat, pemerintah menggunakan logika birokrat untuk mempertahankan UN. Bukan logika pendidik yang digunakan. Kalau logika birokrat, logikanya anggaran. Anggaran sudah ditetapkan, maka ingin sekali memanfaatkan itu. Tidak mempertimbangkan dampaknya, ujar dia sepert dimuat dalam kompas com 26 maret lalu. Bagaimana pendapat kita , apakah Unas tahun depan tetap perlu dipertahankan?.
|
|
Last Updated ( Wednesday, 31 March 2010 )
|