|
Written by finkatiq
|
|
Thursday, 28 May 2009 |
|
Asyiek-asyiek.... asyiekkk... suara irama lembut kadang menghentak pada prosesi Parade Budaya saat memperingati Hari Jaadi Lamongan ke 440 dari alon-alon menuju GOR Basuki Tahmad
Panas.. panas... lautan manusia kebanyakan anak-anak pelajar dari TK, SD sampai tingkat SMA tumplek blek didepan Pendopo Lokatantra rabu, 27 Mei 2009 menunggu kirap bdaya yang diusung dari 27 kecamatan yang ada di Kbupaten Lamongan. Masfuk Bupati Lamongan berpakaian adat jawa menerima petaka dari Kanjeng Tumenggung Surajaya sebagai bupati Lamong 440 tahun lalu . Frakmen yang dipentaskan mahasiswa STSR yang ada di Lamongan menggambarkan proses pengangkatan beliau , saat Lamong dalam fase Mojopahit, fase Demak Bintoro dan Fase Penjajahan . Tepuk sorak menggema dan memecah keheningan usai pentas yang menyita ribuan pasang mata, tak nyangka lamongan punya keunkan tersendiri dan eksis hingga kini. Parade diikuti unjuk kebolehan bocah-bocah molek dengan pakaian warna warni memainkan tari sego boranan yang kini menjadi ikon perkembangan seni Tari jatim dan Nusantara , belum lagi atraksi jaran jenggo , jaran dor, jatilan, kuntulan hadrah sampai reog-reogan mirip reog ponorogo dengan modifikasi sana sini.. dilanjutkan beriringan masing-masing kecamatan unjuk diri biar tidak dikatakan tak ada kemajuan dan perkembangan kesenian didaerahnya . Ada catatan tersendiri dari parade budaya kali ini yang amat menonjol adalah kontingen Desa Balun kecamatan Turi sempat menyita perhatian dengan atraksi Barongsai , Desa ini terkenal dengan konsep Indonesia kecil, ada kerukunan mirip yang ada di Bali kerukunan dan ketenangan melakukan ibadah dengan kepercayaan yang berbeda pula, berbeda tapi satu itulah Desa Balun 3 km utara RS Muhammadiyah Lamongan kota. Iring-iringan ini menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anak sekolah, masyarakat maupun penjual asongan hari ini banyak memetik keuntungan yang lumayan menuju GOR jalan Basuki Rahmad . Kali pertama parade budaya termasuk terobosan dari panitya HJL kerja bareng dengan dinas Pariwisata dan kebudayaan. Perlu peningkatan dan pemikiran kreatifitas yang benar-benar menggali kebudayaan lamongan yang heterogen pesisiran, tengah dan kidulan. (M.Arifin) |